Halaman

WEB BLOG KABUPATEN

Senin, 20 April 2026

Peran Strategis Perempuan Desa dalam Momentum Hari Kartini

 

Peringatan Hari Kartini menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Bagi para pendamping desa dan pegiat pembangunan, momentum ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali sejauh mana perempuan desa telah berperan dalam mendorong perubahan sosial dan ekonomi di tingkat lokal.

Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam kiprah perempuan desa hari ini. Mereka tidak lagi hanya ditempatkan dalam ranah domestik, tetapi telah menjelma sebagai penggerak ekonomi keluarga, pelaku aktif dalam kelembagaan desa, serta mitra strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting.

Di berbagai desa, praktik-praktik baik terus tumbuh. Perempuan terlibat dalam pengelolaan usaha mikro dan BUMDes, aktif dalam kegiatan posyandu, serta mulai mengambil peran dalam forum-forum perencanaan pembangunan desa. Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya perspektif, tetapi juga memperkuat kualitas kebijakan yang lebih inklusif dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan desa memiliki kapasitas dan potensi besar sebagai agen perubahan. Ketika diberikan ruang dan kesempatan, mereka mampu berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara luas.

Di sisi lain, peran pendamping desa menjadi semakin krusial. Pendamping tidak hanya berfungsi sebagai fasilitator program, tetapi juga sebagai penggerak yang memastikan keterlibatan perempuan berjalan secara nyata dan berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas, pendampingan kelompok, serta advokasi kebijakan yang responsif gender, pendamping desa mendorong terciptanya ruang partisipasi yang lebih setara.

Pendamping desa diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, sekaligus menjembatani kebutuhan mereka terhadap berbagai sumber daya pembangunan.

Hari Kartini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa pembangunan desa yang kuat harus bertumpu pada kolaborasi semua pihak. Perempuan desa adalah pilar penting dalam mewujudkan desa yang mandiri, inklusif, dan berdaya saing. Dengan sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pendamping desa, arah pembangunan desa ke depan diharapkan semakin adil dan berkelanjutan

Minggu, 19 April 2026

Pemeringkatan BUMDes di Gorontalo Utara: Tantangan dan Pembelajaran dari Atinggola



 Pembangunan desa yang inklusif menuntut kehadiran nyata hingga ke wilayah terluar. Salah satu instrumen penting dalam mendorong kemandirian ekonomi desa adalah keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola secara profesional dan akuntabel. Dalam konteks tersebut, kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pemeringkatan BUMDes menjadi langkah strategis untuk memastikan kinerja, transparansi, serta keberlanjutan usaha desa.

Kunjungan kerja ke Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, menjadi bagian dari upaya tersebut. Wilayah yang dikenal dengan tantangan geografis dan keterbatasan akses ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana implementasi kebijakan di tingkat desa berjalan, sekaligus memperlihatkan semangat lokal dalam mengelola potensi yang dimiliki.

Perjalanan kunjungan kerja ke wilayah utara Kabupaten Gorontalo Utara, tepatnya di Kecamatan Atinggola, memberikan pengalaman yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh sisi sosial dan kemanusiaan. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu daerah yang cukup terpencil, dengan akses yang menantang serta kondisi geografis yang menuntut kesiapan fisik dan mental dalam menjalankan tugas.

Kunjungan kerja ini difokuskan pada kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pemeringkatan BUMDes, yang menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kinerja dan akuntabilitas Badan Usaha Milik Desa. Dalam pelaksanaannya, tim melakukan peninjauan langsung terhadap dokumen, sistem pengelolaan usaha, serta capaian indikator penilaian yang telah diinput oleh desa.

Salah satu desa yang dikunjungi adalah Desa Buata, yang tergolong desa terpencil. Akses menuju desa ini cukup menantang, dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya memadai. Namun di balik keterbatasan tersebut, semangat aparatur desa dan pengelola BUMDes tetap terlihat kuat dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal.


Selain kegiatan monev, kunjungan ini juga diisi dengan diskusi bersama para pendamping desa dan pendamping lokal desa. Diskusi berlangsung hangat dan terbuka, membahas berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pemeringkatan, mulai dari keterbatasan akses internet, pemahaman teknis aplikasi, hingga kapasitas pengelolaan usaha BUMDes itu sendiri. Para pendamping menyampaikan kondisi riil di lapangan, yang menjadi masukan penting dalam penyempurnaan kebijakan dan sistem ke depan.

Dari kunjungan ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pemeringkatan BUMDes di wilayah terpencil seperti Atinggola membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan kontekstual. Dukungan pendampingan yang intensif, peningkatan kapasitas SDM, serta perbaikan infrastruktur menjadi kunci agar BUMDes di desa-desa terpencil dapat berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.



Perjalanan ini bukan sekadar tugas rutin, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembangunan desa harus menjangkau hingga ke titik terluar, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses kemajuan bersama.

Kunjungan kerja ini menegaskan bahwa keberhasilan pemeringkatan BUMDes tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan administrasi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, dukungan infrastruktur, serta intensitas pendampingan di lapangan. Wilayah terpencil seperti Kecamatan Atinggola membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif agar setiap desa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Lebih dari sekadar agenda rutin, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pembangunan desa harus menjangkau seluruh lapisan, tanpa terkecuali. Dengan sinergi antara pemerintah, pendamping, dan masyarakat desa, diharapkan BUMDes dapat terus tumbuh sebagai pilar ekonomi desa yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Kamis, 02 April 2026

“Desa Bisa Bicara: Kekuatan Sosial Media dalam Membangun Kemandirian Desa”



 Perkembangan teknologi sosial media telah membuka ruang luas bagi setiap warga desa untuk menjadi pemberita atas desanya sendiri. Dokumentasi dan publikasi karya, inovasi, serta capaian pembangunan desa kini dapat menjangkau seluruh penjuru dunia.

Ketika satu desa mampu menunjukkan kemandirian—baik dalam sektor UMKM, energi terbarukan, pertanian, maupun pariwisata—maka desa lain memiliki peluang yang sama untuk belajar melalui pendekatan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Dengan kondisi geografis yang relatif serupa, keberhasilan bukan lagi sesuatu yang jauh, melainkan sesuatu yang bisa direplikasi.

Oleh karena itu, penting bagi setiap desa untuk fokus pada karya nyata dan meninggalkan narasi yang tidak produktif. Membangun desa berarti membangun masa depan bangsa, menciptakan legacy yang berdampak dan berkelanjutan.

Bangun Desa, Bangun Indonesia.

Desa terdepan untuk Indonesia.

#TPPKerjaBerdampak 

#KaryaDesaBerdaya